Home Buleleng Round Up Sempat Layu, Setelah Ditunas, Pohon Asam Maseen Lagi dan Akhirnya Tumbang

Sempat Layu, Setelah Ditunas, Pohon Asam Maseen Lagi dan Akhirnya Tumbang

14
0
SHARE

Joanyar, Pohon Asam yang berusia sekitar dua ratus tahun tumbang diareal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan. Sebelum tumbang, Pohon Asem tersebut sempat layu dan hampir mati.

Sebuah pohon asam berukuran besar yang tumbuh di areal Pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan tumbang pada Selasa malam lalu sekitar pukul 20.00 wita. Pohon asam setinggi kurang lebih 45 meter itu tumbang akibat diterpa angin kencang. Sebelum pada akhirnya tumbang diterjang angin, kejadian aneh terjadi pada pohon asam yang berusia dua ratus tahun itu. Pada Bulan Mei 2018, pohon asam itu sempat mengalami layu dan hampir mati. Ketika itu krama melaksanakan paruman untuk menebang pohon asam itu dan dibuatkan pelinggih. Para prajuru akhirnya melaksanakan persembahyangan untuk nunas (meminta kepada Tuhan) agar pohon tersebut dapat ditebang. Akan tetapi setelah melakukan persembahyangan tersebut keesokan harinya pohon asam itu tumbuh segar kembali seperti sedia kala.

Nyoman Mangku Prajuru Desa Pakraman Joanyar Kajanan mengatakan, setelah pohon asam itu tumbang kembali dilaksanakan persembahyangan untuk memohon petunjuk agar phon tersebut dapat dibersihkan dari areal Pura.

Kelian Adat Desa Pakraman Joanyar Kajanan, Ketut Suyasa menuturkan, pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu tumbang pada Selasa (12/3) malam sekira pukul 20.00 wita. Saat itu hujan memang turun dengan deras, disertai dengan angin kencang. Namun masyarakat baru mengetahui musibah ini pada keesokan paginya. Pohon asam yang tepat berada ditengah-tengah areal pura Dalem Desa Pakraman Joanyar Kajanan itu menimpa sedikitnya 7 pelinggih termasuk Bale Piasan, Sekepat Sari, Gedongan, Surya, Taksu serta patung-patung. “Untuk yang rusak seratus persen Piasan Pura Dalem, Pelinggih Betara Asem, Pelinggih Betara Guru. Yang kira-kira 10 persen kerusakan yaitu Surya dan taksu. Gedongan 40 persen dan sebuah patung yang rusak”,ungkapnya.

Hingga Jumat (15/03) siang pohon masih belum dievakuasi dari areal pura. Dahan-dahan dari pohon asam tersebut tampak masih dibiarkan menimpa  pelinggih-pelinggih tersebut. Masyarakat belum berani membersihkan, sebab diyakini pohon berusia 200 tahun itu tergolong kramat. Bahkan saat kejadian, ada seorang masyarakat desa setempat mengalami kerauhan. Konon ini disebabkan lantaran penghuni dari pohon asam tersebut telah tergeser. Untuk itu dalam waktu dekat, warga,akan melakukan nunas baos serta menggelar upacara secara niskala. Sementara untuk pelaksanaan Piodalan Ageng yang akan dilaksanakan pada 27 Maret ini tidak dilaksanakan lantaran beberapa pelinggih rusak akibat tertimpa pohon.(dyn/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.