Home Buleleng Round Up Semilir Gempol 38: Operasi Tamas dan Hari Raya Edisi II-Habis

Semilir Gempol 38: Operasi Tamas dan Hari Raya Edisi II-Habis

65
0
SHARE

Banyuning, Pada episode lalu diceritakan bahwa Desa adat Buleleng menggelar operasi taat masker, disingkat Tamas. Selain operasi tamas, Pemerintah kabupaten Buleleng juga menggelar penegakan aturan terhadap pergub Nomor 46 tahun 2020. Peraturan yang disahkan pada tanggal 24 August 2020  tentang Pengendalian Corona Virus Disease 2019 Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru.

Adapun tujuan dari pergub tersebut sebagaimana diatur pada pasal 3 adalah meningkatkan partisipasi krama Bali dan pemangku kepentingan dalam mencegah penularan dan penyebaran Covid-19 dengan saling melindungi dan menjaga  kesehatan, mencegah dan mengendalikan penyebaran munculnya kasus baru, meningkatkan angka kesembuhan dan mengurangi angka kematian serta teriptanya pemulihan aspek kehidupan ekonomi secara produktif.

Pada Bab IV Pasal 11 Pergub bali diatur tentang sanksi dimana setiap pelanggar perorangan yang tidak menggunakan masker dikenakan denda administrasi sebesar seratus ribu rupiah. Sedangkan bagi pelaku usaha yang tidak menyediakan protap kesehatan didenda sebesar satu juta rupiah. Lalu apa kaitannya dnegan hari raya?

Semilir berhembus tidak sedikit warga menggerutu dengan diberlakukannya operasi tamas dan Pergub Bali serta Peraturan Bupati Buleleng nomor 41 tahun 2020. Sebagaimana diketahui, pasca ditetapkannya Pergub Bali nomor 46 tahun 2020, Pemkab Buleleng menerbitkan Perbup Buleleng nomor 41 tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin Dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru. Pada pasal

(3) Pergbup nomor 41 tahun 2020 Selain sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Perorangan, Pelaku Usaha, Pengelola, Penyelenggara, Penanggung Jawab Tempat dan Fasilitas Umum juga dapat dikenakan sanksi lainnya sesuai Awig-awig atau Pararem Desa Adat atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Sementara itu  Kemenkes RI telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Republik Indonesia Nomor HK 01.07/ MENKES/ 413/ 2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang lebih dikenal dengan istilah versi 5. Adapun implementasi dari Versi 5 itu adalah sejak 14 Juli 2020, tidak ada lagi istilah Orang Dalam Pemantauan, dan Pasien Dalam Pengawasan ,PDP. Kedua istilah itu digantikan dengan kasus suspect, probable, dan confirm Covid-19.

Dalam juknis versi 5 itu disebutkan, orang bergejala ringan maupun tanpa gejala yang telah menjalani perawatan 14 hari serta gejalanya sudah menghilang, maka yang bersangkutan sudah dapat dikatakan sembuh dan langsung dibebaskan.

Aturan yang baru diberlakukan itu akan menghemat sumber daya terutama ruang isolasi yang ada di rumah sakit. Termasuk mengurangi antrean pemeriksaan di lab-lab yang saat ini sudah menumpuk. Adapun sanski  bagi perorangan membayar denda administratif sebesar Rp. 100.000 bagi yang tidak menggunakan masker pada saat beraktivitas dan

berkegiatan di luar rumah sedangkan bagi Pelaku Usaha, Pengelola, Penyelenggara atau Penanggung Jawab Tempat dan Fasilitas Umum yang tidak menyediakan sarana pencegahan COVID-19  didenda membayar denda administratif sebesar Rp. 1.000.000

(3) Selain sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Perorangan, Pelaku Usaha,

Pengelola, Penyelenggara, Penanggung Jawab Tempat dan Fasilitas Umum juga dapat dikenakan sanksi lainnya sesuai Awig-awig atau Pararem Desa Adat atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Lalu apa kaitannya dengan hari raya?

Ah ini yang sulit dipisahkan, Pergub dan Perbup ini dikeluarkan menjelang hari raya keagamaan. Bagi umat Hindu sejak hari minggu hingga dua minggu kedepan adalah merupakan hari-hari penting dalam proses upacara keagamaan. Kamis 10 September memasuki sugihan Jawa sedangkan Jumat Sugihan bali. Desa adat Buleleng dengan tegas mengambil sikap ngaturang guru piduka pada kahyangan tiga alias tidak melaksanakan pujawali melalui sembahyang bersama. Hal ini tak lain dan tak bukan untuk menekan peningkatan kasus terkonfirmasi positif di desa adat Buleleng.

Minggu 13 September umat Hindu  mengenalnya dengan proses penyekeban dilanjutkan dengan Penyajaan pada Senin 14 September 2020. Kedua proses ini biasanya masih dilakukan pada lingkup keluarga dan masih bersifat mandiri, walau diakui sudah ada aktifitas berupa pertukaran tas pembungkus jajan dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Kebayakan warga biasanya tidak menyemprot tas belanjaan mereka dan langsung memilahnya bersama anggota keluarga lainnya. Potensi penyebaran covid-19 masuk klaster keluarga.

Pada Selasa 15 September merupakan hari penampahan. Nah tradisi yang berlaku adalah patungan membeli daging babi. Saat seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh sebagian besar warga hindu untuk berkumpul dinihari. Nah disinilah sesungguhnya pemerintah harus memperhatian masyarakatnya. Kenapa? Kalua tidak diterapkan sanksi denda sejak awal maka biasanya warga menganggap remeh potensi penularan covid. Apalagi kumpul-kumpul ini tidak hanya diikuti  keluarga dekat  namun juga tidak jarang keluarga dari luar daerah yang sengaja pulang untuk merayakan Galungan.

Bukan hanya itu ibu-ibu biasanya sejak pagi buta ke pasar membeli kebutuhan hari raya. Disinilah terkadang mereka lalai akan protocol kesehatan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang beranggapan. Beh masak hari raya sing toleransine ken pemerintahe, masak hari raya ade Razia masker sing nawang hari raya. Fenomena seperti inilah yang harus diantisipasi sejak dini oleh pemerintah. Sanksi denda harus terus dilaksanakan agar masyarakat tidak menganggap remeh tanpa masker sebagai penyebaran covid yang kian hari semakin meningkat di Bumi Panji sakti.

Pada Rabu 16 September 2020 adalah hari raya Galungan. Warga dari seluruh penjuru biasanya datang untuk menghaturkan bakti ke sanggah kepada para leluhurnya masing-masing. Jika mereka tidak memenuhi protap kesehatan maka disinilah potensi penyebaran covid-19 akan kembali terjadi. Sebab tidak sedkit dari warga yang berprinsip ah irage mebakti masak kena covid-19. Nggak mungkin lah. Kan kita memohon kepada Hyang Widhi. Bahkan para tetua yang agak fanatic mulai menebar psywar, pokokne icang lakar maturan dogen, sing mandang covid, nak irage tujuane mebakti. Sikap seperti ini yang terkadang secara tidak disadari akan berdampak pada penularan covid-19 di Buleleng.  Selanjutnya tanggal 21, 25 dan 26 September ini akan memasuki soma pemacekan agung, penampahan kuningan dan kuningan.

Jika pemerintah tidak tegas, sekali lagi jika pemerintah tidak tegas sejak proses hari raya untuk menertibkan warga yang tidak menggunakan masker maka bukan tidak mungkin klaster baru justru akan muncul dari rangkaian hari raya ini.  Jangan pikir cap positif covid 19 tidak sakit lho.  Harus karantina mandiri selama 14 hari dan dikucilkan oleh mereka yang tidak mengerti akan cara penyebaran virus mematikan ini. Sakit psikis akan lebih mendominasi ketimbang sakit fisik. Bayangkan 14 hari karantina dan setelah itu kita tidak tahu lagi apakah masih terkonfimasi positif ataukah tidak. Yang jelas memasuki hari ke 15 sudah dinyatakan bebas beraktifitas.

Oleh karenanya bila dipandang perlu para petugas dan  Satgas Gotong royong Covid-19 pada saat hari raya wajib melakukan patroli dan menindak tegas warga yang tidak menggunakan masker. Apalagi pada Bab II Pasal 5 Perbup nomor 41 tahun 2020 pada point c mengatur tentang sector kegiatan yang meliputi adat dan agama. Disinilah pemerintah harus hadir untuk melindungi masyarakatnya. Pemerintah dan Desa adat sayang masyarakat, Pemerintah mewujudkannya melalui Pergub nomor 46 tahun 2020 dan Perbup nomor 41 tahun 2020.  Apakah rakyat harus sayang pemerintah? Tidak perlu timbal balik begitu broh. Rakyat harus sayang nyawa diri dan keluarganya dengan menggunakan masker.  Coba pemerintah tidak sayang rakyat dan membiarkan warga tanpa masker berkeliaran kesana-kemari. Berapa nyawa akan mati sia-sia oleh Gering Agung Covid-19 ini?

Tim Pemberitaan Radio Guntur.(tim/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.