Home Buleleng Round Up Semilir Gempol 38: Misteri Pembalut Ditengah Hujan

Semilir Gempol 38: Misteri Pembalut Ditengah Hujan

60
0
SHARE

Kerajaan belang- belang kian hari semakin hijau, upaya penghijauan yang dilaksanakan oleh rakyat Padr Dadi Ingetang, PDI kian massiv. Pun demikian rakyat belum bisa hidup dengan tenang.

Hujan dan angin puting beliun di negeri belang- belang mulai memakan korban. Selain mengakibatkan tanah longsor, angin juga menerbangkan sejumlah atap rumah milik warga. Tak ayal kondisi ini menambah keterpurukan rakyat negeri ditengah pandemi. Lalu dikisahkan para guru pengajian di wilayah kontrakan mulai resah. Semilir berhembus status mereka semakin tidak jelas. Kenapa? Konon keuangan kerajaan makin defisit sehingga gaji mereka yang selama ini dibayar oleh kerajaan kini akan dialihkan pembayarannya bersumber dari pusat kerajaan. Dana itu selama ini dititipkan  pada sekolah-sekolah.

Karuan saja mereka resah, gaji belum dibayar ehhh kini muncul kabar nggak enak lagi. Sungguh besar kekuasaan dan kewenangan si kopid, berhak mengatur dan menggeser segalanya weleh weleh. Lalu terungkap bahwa sumber keuangan kerajaan kini sedang tekor. Semilir berhembus tekornya hingga miliaran rupiah. Kenyataan ini membuat anggota dewan parodi mulai memperketat pengawasan. Ehh udah tekor baru bangun dan hendak ngesor, jangan jangan nanti ikut ngelongsor he he he.

Sementara itu di desa Pade Nau Selalu terlihat sunyi. Disana sini masih membicarakan soal teman mereka yang belum lama ini berurusan dengan justisbao. Kini dikisahkan pada malam hari cuaca makin dingin. Hujan rintik rintik disertai petir mulai menghiasi langit negeri. Beberapa rakyat tampak menggunkan selimut saat keluar rumah.Mereka selalu bersama- sama. Kelakuan mereka pun menjadi pertanyaan warga lainnya. Kenapa mereka menggunakan selimut dan membalut kaki mereka? Sementara diluar tampak suara kodok saling bersahutan. Mereka seakan menikmati pergantian malam. Sementara kelompok rakyat  berselimut enggan keluar rumah. Selidik punya selidik ternyata mereka takut disambar petir. Kenapa? Karena pada kaki mereka masih terpasang Pen penghubung saat mengalami patah tulang. Oh itu ya sebabnya, jawab tetangga yang selalu mempertanyakan polah mereka.

Tim Pemberitaan Guntur Media.(tim/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.