Home Buleleng Round Up Semilir Gempol 38: Bandara Antara Bukit dan Bukti

Semilir Gempol 38: Bandara Antara Bukit dan Bukti

54
0
SHARE

Banyuning, Wacana pembangunan bandara baru Bali Utara belakangan semakin menguat, pertemuan dengan pihak terkait dilakukan secara maraton, tapi apa hasilnya? Entahlah, semua masih bersifat rahasia. Kok rahasia sih? Emangnya ada apa? Penasaran heemmm.

Sejak dilantiknya Bupat Buleleng Putu Agus Suradnyana  tahun 2012 lalu, wacana bandara makin menguat, bahkan bupati Putu Agus Suradnyana pada periode pertama sempat melontarkan pernyataan  minggu depan saya disuruh mengambil penetapan lokasinya oleh menteri perhubungan he he he. Namun hingga kini penlok itu tak kunjung turun hingga Jero Wacik ditangkap KPK dan menghuni LP Sukamiskin.

Saat kampanye Pilgub 2017 lalu calon Gubernur Ketut Sudikerta dengan PT BIBU nya sudah melakukan pekelem yang dikemas dengan trending peletakan batu pertama he he he  Tapi apa daya gagal menjadi gubernur dan kini malah mendekam dibalik jeruji besi. Dari hasil Fisibility studi tampaknya desa Kubutambahan sangat representative untuk lokasi bandara baru. Hal ini juga sesungguhnya telah didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional lanjut turunannya  Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali dan  Perda nomor 9 tahun 2013 tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten buleleng tahun 2013 – 2033. Sejak saat itu peran sentral kelian desa adat Kubutambahan mulai mengemuka. Pasalanya dari hasil FS tersebut sekitar 415 hectar 89 are lahan pelaba pura desa adat digadang- gadang untuk lokasi bandara. Ini artinya tinggal selangkah lagi  Bumi Panji sakti akan memiliki bandar udara. Tapi apa lacur? Belakangan wacana itu semakin kisruh, Kenapa? Berawal dari pertemuan di rumah jabatan Gubernur bali jayasabha Denpasar dipimpin langsung Gubernur bali serta Menteri terkait dan Bupati serta wakil Bupati Buleleng. Semilir berhembus saat itu Kelian desa adat Kubutambahan mengaku sangat kecewa. Hal ini disebabkan karena dirinya merasa ditekan untuk mengalihstatuskan tanah duwen pura menjadi tanah negara. Nah pasca pertemuan itu tampaknya ada solusi lokasi lain untuk pembangunan bandara baru bali utara yakni di wilayah Buleleng barat. Sesungguhnya wacana untuk pembangunan bandara di buleleng barat bukan hal yang baru. Dulu ketika Gubernur Bali dijabat Made Mangku pastika wacana ini juga sempat dilontarkan. Namun semilir berhembus di wilayah barat terganjal Bukit. Beberapa  penggiat penerbangan kala itu mengatakan manuver berlabuh snagat sulit. Sehingga wacana itu hanya tinggal wacana.

Sesungguhnya setiap persoalan pasti ada solusi jika semua pihak mau mengorbankan perasaan. Gubernur jangan mentang-mentang jadi gubernur lalu seenaknya memanggil kelian desa, apalagi tanpa surat, demikian halnya dengan pejabat lainnya. Mari kita saling menghargai dan saling menghormati. Di desa adat ada tatanan yang harus terus dilestarikan baik melalui pauman, sangkepan atau sebutan lainnya, katanya Nangun Sat Kerti Loka Bali he he he.  Mari kita bangun gaya komunikasi dari hati ke hati,Secara filosofi peraturan dibentuk untuk mencapai kebahagiaan. Kalua tetap mengacu pada Undang-undang nomor 2 tahun 2012 mengatur tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum memang iya. Tapi bukankah masih ada undang-undang Pokok Agraria 1960 yang mengatur tentang tanah ulayat? Jadi sesungguhnya semua masih bias dikomunikasikan tentu dnegan kepala dingin, dari hati ke hati. Apalagi jika para pihak mau berdiskusi di Pura Pingit, salah satu pura di Kecamatan Kubutambahan. Sebagai bentuk kearifan local di Pura inilah semestinya didiskusikan persoalan ini lanjut nunas pematut. Jadi kalua misalnya harus di laut kenapa tidak? Serahkan semua pada kajian teknis. Kalau hal ini sudah ditempuh dengan niat Tulus dan Lurus niscaya akan Mulus. Kita masih ingat betul fungsi  fungsi stabisisator, kreatir, dinamisastor. Asal jangan ada fungsi baru yang diselipkan yakni Makelar tor he he he he. Jadi masalah bandara di bali utara kini adalah di barat ada bukit  dan di timur ada Bukti. Jadi pintar-pintarlah memiliah dan memilih bukit atau Bukti he he he Gitu aja kok repot.

Tim pemberitaan radio Guntur.(tim/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.