Home Buleleng Round Up Semilir Gempol 38: Antara PR dan RP

Semilir Gempol 38: Antara PR dan RP

50
0
SHARE

Masa pandemi covid-19 yang terjadi telah merubah hampir seluruh tatanan kehidupan.

Bukan hanya masalah kesehatan, ekonomi tapi juga masalah pendidikan. Dulu saat pandemic terjadi kebetulan masa tahun pelajaran akan berakhir sehingga perubahan belum terasa. Kondisi ini belum disikapi secara serius mengingat saat itu waktu belajar siswa sudah tidak full lagi. Kini setelah memasuki tahun ajaran baru, semua mulai disikapi serius.

Pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2020 telah membentuk komite penanganan Corona Virus Disease 2019 dan pemulihan ekonomi nasional. Pemprop Bali sejak 9 Juli lalu telah membuka beberapa sector kehidupan untuk beraktifitas mengikuti tatatan kehidupan baru, new normal. Salah satunya adalah sector pariwisata. Namun Pemprop Bali hingga kini belum membuka sector pendidikan dan olahraga. Disatu sisi salah satu protap pencegahan covid-19 adalah berolahraga yang cukup dan teratur. Untuk sector olahraga tampaknya masih banyak pilihan olahraga yang bisa dilakukan di rumah masing-masing sambil mengikuti anturan stau at home. Kini memasuki era new normal sepertinya terjadi “ledakan” kunjungan pada berbagai sarana olahraga. Lapangan yang ada dipadati pengunjung minimal untuk jogging, kondisi ini tentu harus diatur. Jika tidak dikhawatirkan akan terjadi klaster baru.

KONI Buleleng sebagai induk organissasi cabang olahraga belum lama ini telah mencoba membangun komunikasi dengan Disdikpora Buleleng untuk mencoba menginisiasi sejumlah cabang olahraga yang tidak berpotensi sebgaia penyebar virus corona. Salah satu syaratnya adlaah pengurus pengkab masing-masing cabang olahraga membuat protap dan sanggup menyediakan ssarana seperti sarana cuci tangan, hand sanitizer, menggunakan masker dan tetap menjaga jarak. Jika ketentuan itu sudah bisa dirumuskan dan disanggupi untuk dilaksanakan, bukan tidak mungkin beberapa cabang olahraga akan segera bisa melaksanakan aktifitas pada tatanan new normal ini. Tentu saja pengawasan harus tetap dilakukan. Lalu bagaimana dengan pendidikan? Soal yang satu ini memang agak rumit, kenapa? System dalam jaringan, daring bagi siswa yang berada dalam jaringan sinyal kuat dan system luar jaringan atau luring bagi siswa yang tidak memiliki HP menjadi polemik.

Bagi siswa yang memiliki HP dan mengikuti system daring atau online memunculkan persoalan baru. Bagi siswa yang beruntung punya orangtua mampu secara ekonomi mungkin tidak menjadi masalah dalam membeli kuota. Persoalan muncul manakala siswa yang notabene masih gaptek atau belum mandiri harus di dampingi orang tua, Dengan demikian waktu ortu akan tersita untuk mendampingi anaknya, sementara ortu juga punya kewajiban kantoran yang harus dipenuhi. Pertanyaan baru muncul  bagaimana jika orangtua mereka bekerja?

Siapa yang mendapingi siswa? Bagaimana jika keadaan orang tua yang tidak mampu sementara mereka punya anak lebih dari satu dan mesti membeli peralatan seperti HP dan sebagainya? Sedangkan dimasa pandemi seperti sekarang ini membeli beras sebagai kebutuhan pokok saja terkadang sangat susah, Apalagi harus membeli kuota. Tidak sedikit orangtua yang mulai mengeluh akan keadaan ini.

Jika dilihat dari tugas yang harus dikerjakan, jam 7 pagi siswa harus setor muka kepada gurunya di sekolah melalui daring, sedangkan jam 7 ortu sudah mulai bersiap-siap aktifitas kantoran, jam 9 mulai ada tugas dari sekolah lalu dimana ortu merwka? Haruskah ijin pulang hanya untuk nemani anaknya membuat PR? Setelah itu jam sore hari harus absen lagi he he he, Mungkin pekerjaan yang melelahkan bagi semua anggota keluarga dengan hasil yang tidak maksimal. Siapa menjamin dengan system ini hasil yang didapatkan akan maksimal? Apalagi kelas 1 baru, bagaimana cara mereka memegang pencil, serta tatacara dasar yang lain membutuhkan prkatek, bukan hanya lewat daring, ya nggak ya nggak.

Tak salah jika tidak sedikit ortu yang menggerutu PR di saya RP nya kok di sana (guru-red) he he he Oleh karenaya harus ada inisiasi misalnya dengan memberikan kesempatan tatap muka kesekolah misalnya maksimal sepertiga dari jumlah siswa, secara bergiliran. Dengan demikian mereka akan mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru dengan catatan, 1. Semua siswa wajib menggunakan masker di sekolah, sekolah wajib menyediakan sarana cuci tangan atau hand sanitizer, serta guru memiliki tugas tambahan mengawasi siswanya agar tetap menjaga jarak. Dengan demikian keluhan orangtua serta harapan agar belajar era baru bisa diwujudkan.

Tim Pemberitaan Radio Guntur.(tim/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.