Home Buleleng Round Up Semilir Gempol 38: Antara Celepuk dan 4 M

Semilir Gempol 38: Antara Celepuk dan 4 M

88
0
SHARE

Negeri belang- belang kian hari semakin trepti. Hampir semua rakyat negeri kini mebakti dan konsentrasi agar si kopid segera mewali. Betapa tidak hampir satu tahun lamanya rakyat negeri sudah sangsi, apakah kondisi imi akan terus terjadi ataukah akan teratasi. Segala daya dan upaya sudah dulakukan, tapi toh kian hari kok semakin bervariasi. Dulu yang mati karena dihinggapi si kopid hanya mereka yang berusia 60 tahun keatas, tapi kini? 60 tahun menurun. Kenyataan ini menjadikan rakyat negeri makin tak berani. Apalagi hingga kini si kopid nggak pernah memperlihatkan diri. Kenyataan ini mendorong raja negeri Raden Tubagus untuk kembali mengeluarkan intruksi. “Wahai rakyat negeri, aku  makin prihatin akan kondisi negeri. Aku minta kepada kalian untuk tetap menerapkan 4 M, Memakai masker, menjaga jarak, sesering mungkin mencuci tangan dan tambahan satu lagi jangan lupa Makan,  sebab kalau puasa terus imun akan turun dan si kopid leluasa obrak- abrik pertahanan tubuh ya nggak ya nggak. Khusus untuk rakyatku di Banyu Ening aku mohon kalian lebih waspada mengingat ada kelompok keluarga yang mulai dihinggapi si kopid. Saat raja negeri menghela nafas untuk.melanjutkan pembicaraanya tiba- tiba muncul seekor burung hantu, yang oleh rakyat negeri belang- belang dikenal dengan nama burung celepuk. Burung itu tak hinggap namun hanya menyelinap dan menghilang. Raja negeripun melanjutkan pembicaraannya.

Janganlah kalian meboya atau bengkung, apalagi bengkung sinduk. Sesungguhnya bukan hanya kalian yang merasakan siksaan ini, akupun sangat terpukul dengan kondisi yang terjadi. Pembangunan yang sudah aku rencanakan menjadi tertunda, padahal masa pengabdianku tinggal satu tahun lagi. Seandainya saja si kopid bisa aku ajak bernegosiasi, mungkin setengah dari kekayaanku kusumbangkan untuk rakyat negeri,”ungkap raden Tubagus dihadapan para pemucuk negeri. Iapun mengingatkan agar rakyat jangan sampai kendor tetap jaga imun dan iman agar terhindar dari si kopid  Tapi dasar kopid tak tahu membedakan apa dan siapa, hingga ke istanapun dirambahnya. Semilir berhembus permaisuri sempat sembunyi sana- sini  gara- gara dikejar si kopid he he he.

Setelah para petinggi negeri menuju ke wewidangan masing- masing mereka kembali melihat burung celepuk. Merekapun menghentikan langkah sembari bertanya- tanya apa gerangan yang akan terjadi? “Bukankan Celepuk ini juga muncul saat raja negeri berbicara di istana,”tanya mereka dalam hati. Sejumlah penafsiran pun muncul diantara mereka, ada yang masa bodoh, ada yang mengaitkannya dengan nomor togel dan yang lainnya.  Kita tinggalkan para petinggi dan mencoba melihat aktifitas rakyat di desa Nuraini. Rakyat di desa ini sangat khawatir atas pengaruh si kopid, tak ayal diantara mereka sampai shock, jangankan membeli masker ,makanpun sudah kadang- kadang. Melihat kondisi itu punggawa negeri nuaraini mulai beraksi. Dikumpulkannya warga untuk mendengar pengarahannya. Disampaikan bahwa penawar si kopid telah ditemukan. Penudanya  berupa air murni sekecrit. Kalau lebih dari sekecrit dikhawatirkan bisa membuat penggunanya encrat- encrit. Saat menyampaikan pesan itu tiba- tiba muncul burung celepuk. Melihat kehadiran burung itu punggawapum bertanya dalam hati kenapa burung ini muncul kembali? Bukankan tadi di istana muncul burung yang sama?  Lalu punggawa melanjutkan pembicaraaanya. Disampaikan bahwa penawar itu kini diprioritaskan untuk pemucuk negeri. , Setelah itu barulah akan menyasar rakyat negeri. Iapun meyakinkan bahwa penawar yang digunakan oleh pemucuk negeri sama dengan penawar yang diberikan kepada rakyat negeri. Saat bersamaan muncul kembali burung celepuk tersebut. Melihat kenyataan itu salah seorang rakyat negeri berkata” Burung celepuk ini sebagai kode alam bahwa jika apa yang disampaikan belum dilihat maka mereka masih was-was akan penuda itu, tapi kalau mereka sudah melihat berulah akan berkilah he he he..Celepuk ngamah legu , Lamen sube Tepuk mare kegugu he he he

Tim Pemberitaan Guntur Media.(tut/dpa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.