Home Buleleng Round Up About Buleleng Sejarah Desa Banyuning

Sejarah Desa Banyuning

3974
0
SHARE
banyuning singaraja, sejarah banyuning, kelurahan banyuning
Selayang Pandang – Sejarah Desa Banyuning

Salah satu kelurahan bagian dari kecamatan Buleleng, yakni kelurahan Banyuning terletak 2 kilometer dari pusat kota pendidikan, Singaraja. 

Batas selatan dari kelurahan Banyuning adalah desa Petandakan, kemudian sebelah timur dibatasi oleh kelurahan Penarukan, kelurahan Astina membatasi bagian baratnya, dan terdapat pantai yang membentangi batas utara dari kelurahan Banyuning ini. Kelurahan Banyuning yang dulunya merupakan desa ini, menyimpan banyak potensi menjanjikan yang telah dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Mengupas tentang potensi kelurahan Banyuning, tentunya tidak lepas dari berbagai kerajinan yang dihasilkan warga setempat, seperti diantaranya pot, priuk, genteng, dan batubata serta berbagai jenis kerajinan lainnya. Walaupun beberapa inovasi kreatif untuk memodifikasi kerajinan yang diproduksi telah dilakukan masyarakat, namun kendala yang dihadapi di bagian pemasaran memaksa masyarakat untuk kembali ke metode lama.

“Memang yang namanya priuk itu sudah dimodifikasi oleh beberapa desain yang ada di Banyuning, tapi kualitasnya tidak seperti desain-desain yang ada di Lombok. Itukan memang bagus desainnya. Tapi di Banyuning juga pernah mengganti kerajinan dari bahan priuk menjadi ke keramik. Itu memang ada, tapi hal tersebut tidak jalan karena ada penghambat di bagian marketingnya. Jadi di Buleleng tidak bisa terus menjalankan itu sehingga kerajinan yang dimodifikasi ke keramik itu menjadi mandeg. Selain itu cost untuk pembelian keramik itu mahal”. Demikian disampaikan oleh Lurah desa Banyuning, Nyoman Sutata.
 
Disamping kerajinan yang diproduksi, warga Buleleng tentunya masih ingat dengan keberadaan Puspa Anom. Sebuah grup drama gong yang sempat melejit namanya di era 70an, yang kemudian menjadi mascot dari desa Banyuning pada masa itu. Seperti yang dituturkan Lurah Banyuning, “Istilah drama Puspa Anom ya?.Jadi masyarakat di Bali sudah mengetahui drama gong Puspa Anom itu, bahkan sampai di Lombok. Drama Puspa Anom yang dibentuk dari tahun 68 itu melalangbuana untuk mengharumkan desa Banyuning. Nah, dari drama gong inilah Banyuning itu dikenal oleh Bali bahkan sampai dengan di Lombok. Ada judul cerita dari penampilan drama itu yang sampai sekarang dikenal oleh masyarakat Bali, yaitu cerita Sampek Intai. Yang diperankan oleh tokoh–tokoh seni di Banyuning, seperti Pan Sampek yang diperankan oleh bapak Gd Mangku. Setelah itu ada Sampik yang diperankan oleh Wayan Sujana (alm.) dan Ingtai yang diperankan oleh Made Sariani. Disamping tokoh–tokoh seni yang lain seperti bapak Nyoman Sueca yang juga sebagai patih, kemudian bapak Nengah Wijana yang berperan sebagai adiknya Jedur yang sampai saat ini masih jalan dibidang seni, kemudian bapak Gd Karsa yang menjadi Malen. Tokoh–tokoh inilah yang membawa Banyuning sehingga dianggap gudang seni”.
 
Lurah Banyuning yang juga merupakan pemangku pura Pemayun, ini juga menceritakan bahwa Banyuning awalnya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan desa adat Buleleng. Namun karena adanya musibah, akhirnya kini desa Banyuning yang telah berstatus sebagai kelurahan telah berdiri sendiri dan telah memiliki khayangan tiga. “Dahulu desa Manuwasika diserang wabah penyakit dan banjir besar. Kemudian warga Manuwasika berkumpul disebalah barat sungai Buleleng, oleh karena itu Raja Buleleng memerintahkan menanam tukad. Semenjak itu pura dalam Purwa berfungsi sebagai Tri Murti. Sehingga putuslah hubungan antara desa Liligundi, Pura Segara Pabean. Sehingga saat itu desa Manuwasika diubah menjadi  desa Banyuning”. Tutur Nyoman Sutata.
 
Lalu mungkin timbul pertanyaan, mengapa wilayah yang berpenduduk 13.000 jiwa dengan 3.700 KK itu disebut dengan nama Banyuning? “Desa Banyuning  dahulu berasal dari nama Monaspatika, dimana Mona berarti air dan Stika berarti hening. Jadi Monaspatika mengandung arti bayuhening, sehingga disingkat menjadi Banyuning. Istilah tersebut dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah baik berupa tulisan–tulisan, relief dan prasasti. Desa Banyuning diperkirakan telah ada sekitar abad ke-13, yaitu pada masa I Gusti Ngurah PanjiS akti yang bersemayam di pura Anyar Sukasada.
Di tengah perkembangan zaman, kelurahan Banyuning tetap menjalankan tradisi yang telah dilakukan secara turun- temurun. Seperti yang disampaikan lurah Banyuning, “saling poles arang, yang diambil dari arang priuk yang sudah digunakan menanak nasi di pura. Keunikan seperti ini hanya ada di Pura Gede Pemayun pada saat Puja Wali Ageng. Selain itu ada juga permainan Maunti, Mejaran – jaranan yang dimainkan oleh anak – anak sampai dengan orang dewasa. Biasanya hal tersebut dilakukan sehari setelah menjelang odalan penglebar. Itulah keunikan yang secara otomatis dilakukan”.
 
Menurut lurah Banyunig, Nyoman Sutata juga menyimpan berbagai potensi diantaranya di bidang olahraga yang telah memberikan prestasi.“ dari dulu Banyuning sudah dikenal dengan olahraga tinjunya yang mana  pada waktu itu bernama Sasana PancaSatria yang menghasilkan petinju – petinju yang berhasil mewakili Bali bahkan Indonesia untuk bermain di Kalifornia. Nama petinju Banyuning adalah Gd. Arimbawa yang dibina oleh bapaknya sendiri yaitu Bapak Ketut Tumon. Dan sekarang olahraga yang paling nge-trend di Banyuning adalah futsal dan tenis meja.
 
Disamping itu, kelurahan Banyuning juga telah meraih beberapa prestasi diantaranyab juara Umum for camp tahun 2008, Juara 1 ulang tahun NKRI 2001, Juara 2 tenis beregu tahun 1996, dan Juara 3 lomba taman tahun 1993.( Tim )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.