Home Buleleng Round Up Molor Proyek Jembatan Tukad Mendaum Desa Banjar Terancam Denda

Molor Proyek Jembatan Tukad Mendaum Desa Banjar Terancam Denda

29
0
SHARE

Banjar,Pembangunan jembatan tukad  Mendaum di Desa Banjar, Kecamatan Banjar dipastikan molor dari jadwal yang telah ditetapkan tanggal 21 Nopember 2017. Bayang-bayang denda pun telah menghantui pelaksana.

Jembatan yang menghubungkan antara Desa Banjar dan Kalianget telah lama mengalami kerusakan.  Lubang menganga pada sejumlah titik  sehingga menimbulkan complain penggunan jalan setempat. Melihat hal tersebut pemkab Buleleng melalui PUPR melaksanakan perbaikan sejak bulan Mei lalu. Namun sayang deadline pengerjaan yang akan berkahir tangal 21 Nopember tampaknya tidak bisa dipenuhi. Pasalnya hingga kini pengerjaan baru emncapai enampuluh empat persen.

Kepala Dinas PU-PR Buleleng Ketut Suparta Wijaya mengakui jika proyek itu molor. Padahal pengawas telah menggenjot pengerjaan jembatan tersebut. Dari pengawasan itu, pihak rekanan telah mengerjakan  konstruksi jembatan mulai dari pondasi sampai badan jembatan. Adapun pondasi yang baru selesai dikerjakan adalah di sebelah barat. Sedangkan pondasi di timur belum dikerjakan kerjakan karena terganjal masalah teknis di lapangan. Kondisi ini mengakibatkan pekerjaan tidak rampung hingga 21 Nopember seseui ketentuan kontrak. “Hasil  kajian kami dari hasil  pengawasan, bahwa  proyek itu tidak rampung sesuai ketentuan kontrak  21 November 2017, mengingat  rekanan sendiri kesulitan mengerjakan konstruksi bawah dan sampai sekarang pondasi di sebelah timur belum rampung dan dipastikan molor,”terangnya

Atas keterlambatan itu Kadis PUPR Suparta Wijaya mengaku telah melayangkan surat teguran. Surat ketentuan dedapun telah disiapkan hingga sampai batas waktu limapuluh hari kalender. Jika ketentuan itu juga tidak dapat dipenuhi oleh pelaksana maka kontraknya akan diputus. “Adapun sanksi yang akan dikenakan berupa  denda keterlambatan terhitung dari tanggal kontrak berakhir selama 50 hari kalender. Berdasarkan mekenisme yang ada, nilai denda pengerjaan itu dihitung berdasarkan satu  per mil per hari dikalikan nilai kontrak proyek. Bila dalam waktu denda pengerjaan itu, rekanan tetap tidak bisa menyelesaikan sisa pekerjaan, maka Dinas PU-PR akan memutus kontrak yang bersangkutan,”tegasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.