Home Buleleng Round Up Melukis Wayang Pada Media Bambu, Tingkatkan Nilai Ekonomi Kerajinan

Melukis Wayang Pada Media Bambu, Tingkatkan Nilai Ekonomi Kerajinan

302
0
SHARE

Sinabun, Lukisan yang biasanya dituangkan diatas kertas kanvas atau kain, kini bisa dilakukan pada media bambu. Lukisan yang dilakukan ini dalam bentuk solder dengan wujud berupa wayang khas Buleleng.

Bambu salah satu jenis tumbuhan berkeping satu yang banyak tumbuh di lahan tropis. Di Kabupaten Buleleng sendiri tumbuhan bambu banyak dijumpai pada desa-desa. Bambu banyak dimafaatkan oleh masyarakat untuk upacara adat maupun keagamaan. Namun bambu juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kerajinan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Gubernur Nomor 97 tahun 2018, tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, pemanfaatan bambu semakin meningkat. Beberapa ada yang memanfaatkan bambu sebagai tas belanja. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai pipet/sedotan untuk mengganti pipet yang terbat dari plastik. Seperti yang dilakukan Gede Suarsa Ariawa asal Desa Sinabun Kecamatan Sawan. Seperti pada umumnya, Suarsa memproduksi pipet untuk mengganti pipet plastik. Tapi pipet bambu yang di produksi oleh Suarsa berbeda dari lainnya.

Pipet yang diproduksinya dihiasi dengan Lukisan-lukisan berupa plang nama dan juga tokoh pewayangan khas Buleleng. Untuk tokoh pewayangan Suarsa hanya menggambarkan pada produksi pulpen, tempat dupa serta tempat kartu undangan. Untuk pipet ia hanya menggunakan lukisan yang simple agar tidak terkesan kotor saat digunakan sebagai alat minuman. Lukisan-lukisan itu tidak ia gambar, melainkan di solder dengan alat khusus yang dirancangnya sendiri. Pipet yang dibuat Suarsa ada dua jenis yakni khusus untuk cocktail dan jus. Untuk cocktail pipetnya berukuran 13 cm dengan diameter 3 milimeter, sementara untuk jus panjangnya 25 cm.

Ditemui dirumahnya, Gede Suarsa Ariawan mengatakan, ia hanya memproduksi tiga item seperti pipet, pulpen dan juga tempat undangan. Namun untuk tempat undangan ia belum bisa menerima pesanan karena keterbatasan tenaga pengrajin. Tokoh yang biasanya dibuat dan banyak mendapat pesanan diantaranya tokoh Arjuna, Krisna dan Dewa Wisnu. “Jarang saya lihat ada yang melukis dengan menggunakan media bambu. Saya mempertahankan tradisi wayang buleleng,”ungkapnya.

Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit, lukisan wayang itu sudah dapat diselesaikan dengan sempurna.  Tanpa sket gambar, Suarsa dengan lihai menggerakkan alat solder diatas media bambu. Warna natural bambu menguatkan hasil lukisan wayang yang dibuat. Kendala yang dihadapi saat melukis bambu terletak pada media bambu yang digunakan. Terkadang ada bambu yang sulit untuk dilukis yang membuat bahannya banyak terbuang.

Pemasaran yang dilakukan hanya melalui media sosial. Sehari Suarsa dapat meproduksi lima puluh batang pipet bambu. Sementara untuk produksi pulpen dengan lukisan wayang, tidak bisa dilakukan dengan cepat karena banyak piranti yang dibutuhkan untuk kelengkapan alat pulpen.(dyn/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.