Home Buleleng Round Up Enam Tahun Menderita Tumor Otak Warga Kubutambahan Harapkan Penanganan

Enam Tahun Menderita Tumor Otak Warga Kubutambahan Harapkan Penanganan

28
0
SHARE

Kubutambahan, Seorang warga dusun Kubu Anyar desa Kubutambahan menderita tumor otak sejak enam tahun lalu, hingga kini penderita belum mendapatkan penanganan maksimal.

Adalah Luh Asrini (53) tahun yang menderita tumor otak sejak enam tahun lalu. Ihwal penyakit yang diderita ibu empat anak ini diceritakan oleh sang suami Nyoman Ragia. Ditemui di kediamannya Selasa (21/05) Ragia menceritakan bahwa pada awal tahun 2014 lalu istrinya terjatuh saat bekerja dan terbentur pada beton. Ketika itu dirinya mengajak istri ke rumah sakit umum Kabupaten Buleleng. Penangan telah dilakukan pihak rumah sakit. Pada awalnya yang terlihat hanya dampak pada mata Luh Asrini. Namun lama-kelamaan sakit itu merambat pada kepala. Asrini merasakan pusing yang berkepanjangan hingga tak mampu berdiri. Melihat kondisi memburuk, Ragia mengajak kembali istrinya berobat ke rumah sakit umum kabupaten Buleleng hingga akhirnya Asrini dirujuk ke RSUP Sanglah. Dibalik keterbatasan biaya yang dimilikinya Ragia memaksakan diri untuk mengantar istrinya ke RSUP Sanglah. Mondok selama lima bulan dirasakannya sangat menyiksa, apalagi operasi tak kunjung dilakukan. Setelah lima bulan mondok rawat jalan di Denpasar, akhirnya Ragia bersama istrinya memutuskan untuk pulang. Kini Asrini tidak bisa beraktifitas, bangun dari tempat tidur pun harus dibantu. Untuk bisa duduk ia harus menggunakan tongkat kayu. “Awalne jatuh dumun awal tahun 2014-an, waktu itu tiang pas luas. Tapi ten uning ia ade sakit di otakne, peningalane ne kena, ajak tiang ke Denpasar operasi dua kali operasi akhirnya gagal. Ternyana katanya ada tumor otak. Tiang lima bulan mondok di Denpasar, karena menurut informasi petugas saat itu apang sing kena virus kone. Makane tiang rawat jalan mondok tiang di Denpasar,”ceritanya

Nyoman Ragia menambahkan setelah mencari informasi, ia kembali mendapat panggilan dari RSUP Sanggalh. Namun karena sama sekali tidak memiliki biaya untuk mondok akhirnya Ragia mengurungkan niatnya untuk mengantar snag istri ke RSUP Sanglah. Ia mengakui jika dirinya bersama keluarga meemiliki Kartu Indonesia Sehat, KIS. Namun ia sama sekali tidak emmiliki biaya hidup mondok di Denpasar. Apalagi jadwal operasinya juga tidak jelas. “Kira-kira ade satu bulan ditelepon oleh pihak RSUP sanglah, diminta datang dan cek ulang. Karena tiang sama sekali tidak punya biaya tiang nggak bisa berangkat. Disamping nike kapan jadwal operasi juga tidak jelas,”paparnya.(tut/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.