Home Buleleng Round Up Distan Kembangkan Padi Cicih Gondrong di Munduk

Distan Kembangkan Padi Cicih Gondrong di Munduk

36
0
SHARE

Banyuasri, Dinas Pertanian bersama Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) merekayasa padi lokal beras merah varietas Cicih Gondrong di Desa Munduk.

Padi lokal beras merah dengan varietas Cicih Gondrong mulai dikembangkan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar. Ujicoba rekayasa genetik ini masih dalam tahap penelitian untuk bisa mendapatkan benih yang benar-benar unggul. Penyempurnaan genetic pada padi beras merah Munduk ini dimaksudkan untuk melestarikan plasma nutfah (substansi pembawa sifat keturunan) yang saat ini terancam punah. Untuk penerapan benih rekayasa genetic itu ke petani masih memerlukan waktu yang cukup panjang sekitar lima tahun. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng bersama Batan baru saja membuat demplot benih yang sudah disinar gama dan mendapat perlakuan khusus oleh Batan di Balai Benih Tangguwisia, Desa Tangguwisia Kecamatan Seririt.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarsa mengatakan, sejauh ini varietas padi lokal beras merah Munduk masih bertahan di lahan seluas 60 hektar. Jumlah lahan itu pun stagnan dan masih dipertahankan oleh petani karena beras merah merupakan sarana upacara yang harus ada. Meski demikian beras merah Munduk juga dipasarkan. Hanya saja belum dapat memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi. Varietas padi lokal beras merah Munduk juga memiliki keunggulan produksi pangan organic dan rasa yang pulen setelah dimasak serta memiliki harum dan khas, seperti varietas padi pandan wangi. Padi beras merah varietas lain sebenarnya dikembangkan dibeberapa subak di Buleleng, seperti Subak Sambangan dan Cengana, hanya saja diklaim rasanya tak seperti beras merah Munduk.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarsa menjelaskan setelah dilakukan rekayasa genetic diharapkan varietas padi beras merah Munduk dapat berproduksi lebih maksimal dengan waktu panen yang lebih singkat. “Direkayasa nanti tujuannya produksi meningkat menjadi 6-7 ton per hektar, kalau sekarang maksimal masih 4 ton maksimalnya. Dulu wkatu panennya enam bulan sekarang bisa direkayasa seperti varietas unggul 3-4 bulan, sudah bisa panen dengan ketinggian menyamai varietas padi unggul,”jelasnya.

Setelah rekayasa genetic ini berhasil, diharapkan dapat meningkatkan prosuksi dan dapat memenuhi peluang pasar. Apalagi saat ini permintaan beras merah semakin tinggi dengan kesadaran masyarakat akan panganan yang organic dan berdampak bagus pada kesehatan. Selain varietas padi lokal beras merah Munduk, juga dilakukan rekayasa genetic pada padi lokal beras Sudaji. Hanya saja untuk varietas beras Sudaji masih dalam tahap penelitian pihak Batan.(dyn/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.