Home Buleleng Round Up Corona Dari Meboya Hingga Maklumat Kapolri

Corona Dari Meboya Hingga Maklumat Kapolri

50
0
SHARE
Foto: Ilustrasi Virus Corona Sumber: news.detik.com

Banyuning, Virus corona telah membuat masyarakat kalang kabut. Pada awalnya tidak sedikit masyarakat yang menganggap remeh virus yang pertamakalinya ditemukan di negeri tirai bamboo Cina. Perilaku masyarakatpun pada awalnya biasa-biasa saja, Cuek gitu lho. Guyonan mulai muncul  Corona, Copi Roko Nasi, ah ada ada saja.  Bahkan informasi di medsos untuk segera menghaturkan sesajen tertentu pun dianggap angin lalu.

Tapi setelah mendengar banyaknya kematian disebabkan virus Covid 19, tak sedikit masyarakat mulai resah, bukan hanya resah biasa tapi ditambah gelisah. Gelisah berlebihan hingga muncul sejumlah haok. Kematian demi kematian terjadi hingga informasi terbaru empat orang tenaga dokter meregang nyawa.

Di Buleleng virus ini juga mulai memakan korban. Data terbaru Rumahsakit Pratama Girimas merawat  18  orang ODP .  Sebanyak 4 orang yang pertamakalinya ditemukan  sudah diambil sampel darahnya sebanyak 2 kali.  Terpantau 260 orang yang memiliki riwayat perjalanan keluar negeri. Walaupun Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana berjanji memasak yang terenak untuk

korban yang terisolasi, namun kita yakin tidak ada masyarakat yang berkeinginan mencicipi masakan tersebut. Ingat prinsi se enak-enaknya masakan di rumah sakit, masih lebih enak masakan di rumah sendiri walaupun hanya uyah lengis ajah ya nggak ya nggak?

Para pekerja luar negeri  yang dulu  dianggap pahlawan , kini harus menjadi pesakitan . Betapa tidak  setelah kepulangan dari mendulang devisa, mereka diwajibkan memeriksakan diri bukan hanya pada lembaga kesehatan luar negeri tapi juga pada lembaga kesehatan daerah. Hal ini semata untuk meyakinkan warga sekitar bahwa mereka yang baru saja datang dari luar negeri sudah steril dari virus Corona. Bukan hanya itu ada permintaan juga agar mereka dikarantina selama 14 hari   Masyarakat  yang pada awalnya meboya kini jadi mulai ketakutan berlebihan. Psikis masyarakat jadi terganggu, sedikit sedikit corona, sedikit sedikit c orona padahal kita tahu corona bukan hanya sedikit he he he. Himbauan PHDI Pusat yang melarang arak arakan ogoh-ogoh dinilai tidak sejalan dengan edaran dari PHDI Propinsi Bali yang masih mentolerasni arak-arakan ogoh-ogoh dengan catatan. Dualisme sikap ini menjadikan para kelian desa adat jadi bulan-bulanan kramanya. Ada yang meminta ikuti edaran PHDI propinsi da nada pula yang berharap agar mengikuti himbauan PHDI Pusat. Dualisme ini disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng, melalui edaran bupati Buleleng yang mlarang arak-arakan ogoh-ogoh. Bukan hanya itu sikap bijak diumumkan bahwa Pemkab akan mengadakan lomba ogoh-ogoh pada saat covid 19 sudah enyah dari muka bumi ini he he he.  Alhasil seluruh masyarakat adat di Buleleng telah menyatakan kesiapannya tidak mengarak ogoh-ogoh.

Informasi terbaru Maklumat Kapolri tertanggal 19 Maret 2020  tentang kepatuhan terhadap kebijakan Pemerintah dalam penanganan penyebaran virus corona dengan  tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa , melakukan pawai dan arak-arakan. Apabila ditemukan perbuatan yang bertentangan dengan maklumat  maka setiap anggota Polri wajib melakukan tindakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat umum

Dari lontar-lontar, kisah rakyat Bali  dari cerita Jayaprana, Sidatapa, Julah dan lain sebagainya  ingatan turun-temurun, kita diajak siap melihat masa lalu: Gerubug pernah menyerang Bali. Gerubug pernah memporak-porandakan Bali, tidak dilupakan demikian saja, masih diingat sebagai cerita, sebagai mitos, bahkan masuk menjadi bagian pementasan kesenian tradisional. Artinya: Bali tidak kebal dari wabah. Jangan mati sia-sia, Mari Kita tinggal dirumah untuk sementara waktu  Ketaatan kita untuk keselamatan kita bersama.

Dikutip dari berbagai sumber

Tim Pemberitaan Radio Guntur.(tim/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.