Home Buleleng Round Up Bangun Krematorium Desa Adat Buleleng Gelar “Ngeruak”

Bangun Krematorium Desa Adat Buleleng Gelar “Ngeruak”

58
0
SHARE

Kendran, Wacana untuk membangun tempat membakar jenazah sehingga menjadi abu atau krematorium di desa adat Buleleng Minggu (28/06) diwujudkan diawali  upacara ngeruak.

Jro Mangku Dalem desa adat Buleleng memimpin upacara ngeruak. Acara dihadiri kelian desa adat Buleleng Nyoman Sutrisna, pengelola setra ketut Suryada serta para kelian banjar adat di wewidangan desa adat Buleleng, dengan tetap memakai masker.

Usai ngeruak ditandai dengan ngedeng peras kelian desa adat Buleleng Nyoman Sutrisna menjelaskan pembangunan krematorium di setra adat Buleleng sudah merupakan wacana sejak lama, namun belum bisa diwujudkan karena keterbatasan dana.  Setelah menunggu cukup lama akhirnya pengempon pura dalem desa adat Buleleng berinisiatif untuk membangun crematorium. Hal ini langsung disambut desa adat dengan melakukan pertemuan dan akhirnya disepakati untuk membangun crematorium diawali dengan membentuk pengelola setra. “Awalnya sudah kita sekat dengan beberapa jalan yang kita rancang, kemudian didalam pembangunan crematorium akan kita kerjasamakan dengan Jero mangku dalem. Tata kelola akan diatur oleh pengelola sehingga apa yang kita desain sudah lama terwujud,”ungkapnya.

Pemangku Pura Dalem desa adat Buleleng Made Dharma Tanaya selaku  inisiator pembangunan krematorium menuturkan ia melihat kebutuhan umat agar biaya pengabenan yang selama ini terkesan mahal bisa lebih murah tanpa mengurangi arti dan makna pengabenan, Diperkirakan dana pembangunan mencapai satu  miliar rupiah lebih dengan sumber pendanaan dari Pemprop Bali sebesar 500 juta rupiah. “Satu ini memang kebutuhan, kedua ini lebih praktis dan menekan pembiayaan yang selama ini memberatkan umat. Pendanaannya dari provinsi. Pembiayaan bisa ditekan, karena yang mahal kan bantennya. Kita bisa tekan dengan nyakup banten. Estimasi biaya ngaben menggunakan krematorium ini bisa 50-60 persen dari biasanya,”ungkapnya.

Ketua pengelola Setra adat Buleleng Ketut Suryada menjelaskan setra adat Buleleng telah dibagi menjadi 14 wewidangan banjar adat. Pengelola menurutnya akan berkoordinasi dengan pengempon pura dalem dalam memanfaatkan sarana crematorium.”Bekerjasama dengan yayasan yang dibentuk Pura Dalem akan membuat aturan tentang pengelolaan kremasi. Ini bertujuan untuk membantu umat agar seringan mungkin melakukan upacara pengabenan,”bebernya.

Pelaksana teknis pembangunan krematorium  Made Sudarma menjelaskan pembangunan akan dilaksanakan melalui dua tahap. Adapun areal setra yang dimanfaatkan untuk krematorium pada bagian timur laut setra seluas 20 x 20 meter dengan kelengkapan bangunan meliputi dua tempat krematorium, bale pewadaan, bale peyadnyan, bale pesandekan, bale pegongan, kantin, gudang dan wc umum. Diharapkan pembangunan akan rampung selam aenam bulan.”Akan ada jalan masuk dengan lebar 5 meter, sebelah timur jalan ada bangunan utama dan krematorium. Sebelah barat ada bale pegongan, kemudian disebalahnya ada kantin. Utara bale pegongan ada bale pesandekan. Kemudian pojok utara gudang, wc umum II, dan empat bale pewedaan. Dengan jarak sekitar 9 meter dari bale pewedaan ada tempat sembahyang untuk yang punya acara. Ditengah ada bangunan bale peyadnyan,”pungkasnya.(tut/ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.